«

»

Jul 12

Seputar soal teori dan eksperimen IPhO 2015

Dalam Olimpiade Fisika, ada dua jenis tes yaitu teori dan eksperimen masing-masing 5 jam. Kalau tradisinya teori dilaksanakan dulu, kali ini di India, eksperimen lebih dahulu, yaitu hari Selasa, 7 Juli 2015, kemudian teori pada hari Kamis, 9 Juli 2015.

Tes eksperimen kali ini terdiri atas dua jenis (E1 dan E2) yang mengambil topik besar tentang difraksi cahaya. Topik ini selaras dengan tahun 2015 yang ditetapkan oleh Unesco sebagai international year of light.

Eksperimen E1 menguji tentang difraksi cahaya pada struktur heliks DNA yang disederhanakan menjadi difraksi pada pegas mini. Ada dua struktur yaitu heliks dan double heliks.

Eksperimen E2 menguji tentang difraksi cahaya pada permukaan air dimana air tersebut mengalami gangguan dari luar.

Soal teori T1 bercerita tentang partikel dari matahari yaitu foton dan neutrino.

Soal teori T2 bercerita tentang konsep ekstremum dalam fisika, baik dalam mekanika, optika, interaksi wave dan materi.

Soal teori T3 bercerita tentang desain reaktor nuklir.

Masing-masing tes bernilai 10 dimana total nilai eksperimen 20 dan total soal teori 30 sehingga maksimal 50.

Secara umum, kemampuan siswa Indonesia dalam mengerjakan soal teori kali ini cukup baik. Hugo Herdianto misalnya, meraih nilai teori cukup baik dengan total 26,4 dari maksimal 30. Ketika ditanya, Hugo menjawab soal teori termasuk mudah dibandingkan dengan soal IPhO tahun lalu di Kazakhstan. Rupa-rupanya, jawaban Hugo ini menimbulkan kekhawatiran pembina, jangan-jangan soal teori ini juga akan dianggap cukup mudah oleh siswa dari negara yang selama ini langganan medali emas, seperti China, Korea, China Taipei dan sebagainya.

Benar saja, seorang siswa dari Korea meraih nilai teori sempurna sebesar 30. Sejumlah peserta lainnya ada yang meraih nilai 10 entah di T1, T2 atau T3. Mudahnya soal teori ini justru dalam pandangan pembina Indonesia menandakan tipe soal yang jelek, atau setidaknya kualitasnya lebih jelek daripada soal tahun lalu. Relatif mudahnya soal teori tudak menunjukkan IPhO sebagai ujian soal Fisika SMA dengan derajat kesukaran tertinggi.

Akhirnya dengan sejumlah siswa yang mampu meraih nilai sempurna atau hampir sempurna, membuat IPhO kali batas emasnya jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun ini mencapai 42,20 sementara tahun lalu hanya 27 koma sekian. Siswa Imdonesia dgn nilai tertinggi 38,5 yaitu Hugo Herdianto akhirnya harus puas dengan medali perak. Selisih dengan batas emas hampir sebesar 4 poin ternyata mustahil diraih, sebab dari analisis pembina terhadap lembar jawaban Hugo ternyata nilai poin maksimal yang dapat diperjuangkan dalam moderasi hanya sebesar sekitar 2 poin saja.

Bagaimanapun juga, apresiasi yang tinggi harus diberikan kepada seluruh siswa yang telah berjuang keras dalam persiapan dengan belajar di sekolah, rumah maupun pembinaan yang diselenggarakan oleh Kemendikbud serta kerja keras di IPhO. Semoga IPhO tahun depan dapat lebih baik lagi.

Bersambung…

(Rinto)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>